Menuju Industri 5.0: Mengapa Industri 4.0 Tidak Cukup?

3 days ago 3
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Ilustrasi etika menggunakan teknologi. Foto: A9 STUDIO/Shutterstock

Selama lebih dari satu dekade, Industri 4.0 menjadi simbol kemajuan industri global. Digitalisasi, otomatisasi, kecerdasan buatan, dan Internet of Things (IoT) dipromosikan sebagai kunci efisiensi, produktivitas, dan daya saing. Indonesia pun tidak tertinggal. Program Making Indonesia 4.0 digagas untuk memperkuat sektor manufaktur dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Namun, dunia kini menyadari satu hal penting: Industri 4.0 tidak lagi cukup untuk menjawab tantangan global yang semakin kompleks. Krisis iklim, ketimpangan sosial, disrupsi tenaga kerja, dan rapuhnya rantai pasok global menunjukkan bahwa kemajuan teknologi saja tidak otomatis membawa kesejahteraan yang berkelanjutan.

Di sinilah konsep Industri 5.0 muncul—bukan sebagai pengganti teknologi, melainkan sebagai koreksi arah pembangunan industri.

Keterbatasan Paradigma Industri 4.0

Industri 4.0 berorientasi kuat pada efisiensi dan optimalisasi proses. Mesin dan algoritma menjadi pusat pengambilan keputusan, sementara manusia sering kali diposisikan sebagai operator atau bahkan biaya yang harus ditekan. Pendekatan ini efektif dalam meningkatkan output, tetapi mengandung risiko jangka panjang.

Ilustrasi Logistik. Foto: Shutter Stock

Di Indonesia, otomatisasi di sektor manufaktur dan logistik mulai menimbulkan kekhawatiran akan pengangguran struktural, terutama bagi tenaga kerja dengan keterampilan menengah. Di sisi lain, eksploitasi sumber daya alam yang didorong oleh tuntutan produksi massal mempercepat kerusakan lingkungan—dari berkurangnya tutupan hutan, polusi industri hingga krisis air dan energi.

Pandemi COVID-19 menjadi pengingat keras bahwa sistem industri yang terlalu mengejar efisiensi ternyata tidak cukup tangguh menghadapi krisis. Rantai pasok global terganggu, transportasi lumpuh, dan banyak industri tidak siap beradaptasi secara cepat dan manusiawi.

Industri 5.0: Manusia Kembali ke Pusat

Berbeda dengan Industri 4.0, Industri 5.0 menempatkan manusia kembali sebagai pusat transformasi industri. Paradigma ini bertumpu pada tiga pilar utama: human-centricity (berorientasi pada manusia), sustainability (keberlanjutan), dan resilience (ketahanan).

Industri 5.0 tidak menolak otomatisasi atau AI. Justru sebaliknya, teknologi canggih dipandang sebagai mitra manusia. Mesin unggul dalam presisi dan kecepatan, sementara manusia unggul dalam kreativitas, empati, dan penilaian etis. Kolaborasi ini membuka peluang pekerjaan yang lebih bermakna dan aman, bukan sekadar lebih cepat dan murah.

Ilustrasi manusia dan teknologi. Foto: Shutterstock

Dalam konteks BUMN dan sektor transportasi, misalnya, digitalisasi sistem perkeretaapian atau transportasi publik tidak cukup hanya meningkatkan ketepatan jadwal. Industri 5.0 mendorong agar teknologi juga meningkatkan keselamatan, kenyamanan penumpang, dan kesejahteraan pekerja lapangan—dari masinis hingga petugas perawatan.

Keberlanjutan sebagai Fondasi Industri Masa Depan

Salah satu perbedaan paling mendasar Industri 5.0 adalah penempatan keberlanjutan sebagai fondasi utama, bukan sekadar program tambahan. Kerusakan lingkungan dan krisis iklim menunjukkan bahwa model industri lama telah melampaui batas daya dukung bumi.

Industri 5.0 sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Industri tidak lagi dinilai hanya dari laba, tetapi juga dari kontribusinya terhadap penguranga...

Read Entire Article