Jebakan Simulakra: Ilusi Gaya di Balik Tumpukan Limbah Impor

1 month ago 22
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
 Ilusi Gaya di Balik Tumpukan Limbah Impor Rifqi Achmad Sazali Tenaga Ahli DPR(Dok. Istimewa)

DI lorong-lorong Pasar Senen di Jakarta atau Gedebage di Bandung, kita menyaksikan ironi kebudayaan yang ganjil. Ribuan anak muda rela berdesakan, memilah tumpukan pakaian lusuh berbau apek. Mata mereka berbinar bukan saat menemukan kualitas kain yang prima, melainkan saat menemukan label asing: Dickies, Uniqlo, Gap, atau Supreme. Di sana, pakaian bekas yang telah menyeberangi samudra dianggap sebagai harta karun.

Polemik impor pakaian bekas (thrifting) yang kembali memanas di penghujung 2025 ini —dipicu terbongkarnya penyelundupan skala besar dan ketegasan pemerintah— bukan sekadar masalah pelanggaran hukum dagang. Ini adalah krisis mentalitas. Kita sedang terjebak dalam apa yang disebut sosiolog Jean Baudrillard sebagai simulakra —sebuah realitas semu di mana kita merayakan sampah bangsa lain sebagai mahkota gaya hidup kita sendiri.

Mengkonsumsi Tanda Bukan Benda

Mengapa seseorang rela memakai baju bekas orang asing yang tidak dikenal riwayat kesehatannya? Mengapa bekas impor lebih memikat daripada baru lokal? Jawabannya tidak terletak pada fungsi (use value) melainkan pada nilai tanda (sign value).

Dalam kacamata Baudrillard, masyarakat konsumeris di era pasca-modern tidak lagi mengonsumsi objek karena kegunaannya, melainkan mengonsumsi tanda atau citra yang melekat padanya. Ketika membeli baju bekas impor, konsumen tidak sedang membeli penutup badan, melainkan membeli imajinasi sebagai masyarakat global yang modern.

Label merek internasional pada baju bekas itu menjadi tiket murah menuju status sosial semu. Ini adalah hiperrealitas: citra keren dan branded yang melekat pada baju itu terasa lebih nyata di benak konsumen daripada fakta bahwa benda itu adalah limbah. Kita rela menjadi tempat pembuangan akhir (dumping ground) sampah tekstil negara maju, asalkan sampah itu memiliki logo yang memvalidasi eksistensi sosial. Fenomena ini menunjukkan kemenangan simbol atas substansi; kemenangan gengsi atas logika ekonomi.

Realita Klinis dan Ekonomi yang Terinjak

Simulakra dalam fenomena ini menyembunyikan realitas mengerikan. Di balik ilusi gaya tersebut, ada ancaman sangat faktual. Pertama, ancaman kesehatan. Kementerian Perdagangan melalui uji laboratorium berkali-kali menemukan cemaran bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus, serta jamur kapang pada sampel pakaian bekas impor. Bakteri ini resisten dan bisa menyebabkan gangguan pencernaan hingga infeksi kulit. Secara biologis, ini menjijikkan. Ironisnya, demi mengejar logo brand global, konsumen rela mengabaikan fakta higienitas ini.

Kedua, ancaman ekonomi. Ilusi ini memakan korban nyata: industri tekstil. Masuknya pakaian bekas impor adalah bentuk predatory pricing (perang harga mematikan). Baju bekas masuk lewat jalur ilegal tanpa bea masuk dan dijual dengan harga sampah (Rp10.000–Rp50.000), sementara Industri Kecil Menengah (IKM) lokal harus menanggung biaya bahan baku, upah tenaga kerja, dan pajak, dengan HPP yang seringkali di atas harga jual baju bekas tersebut.

Data historis dari Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menunjukkan korelasi menyedihkan: setiap kali keran impor baju bekas bocor deras, utilitas produksi IKM lokal anjlok drastis hingga 30%-40%. Kita sedang membiarkan narasi besar kapitalisme global menggilas narasi kecil para pengrajin lokal yang berjuang menghidupi keluarga. Secara hukum, ini jelas melanggar Permendag No 40 Tahun 2022 dan UU No 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan. Namun, hukum seringkali tumpul menghadapi derasnya permainan mafia dan permintaan pasar yang mabuk merek.

Dari Larangan Menuju Kebangkitan

Lantas, bagaimana jalan keluarnya? Mengurai benang kusut ini tidak cukup hanya dengan aksi bakar-bakar barang sitaan. Strategi solusinya harus menyentuh dua sisi sekaligus: Penegakan Hukum di Hulu dan Perang Narasi di Hilir.

Pertama, pemerintah harus berhenti bermain kucing-kucingan dengan pedagang eceran kecil. Fokus penindakan harus diarahkan pada pintu masuk di pelabuhan tikus dan mafia importir besarnya. DPR perlu mendesak Bea Cukai dan aparat penegak hukum untuk transparan dan tegas dalam pengawasan jalur laut. Tanpa cara ini, razia di pasar hanya akan mematikan ekonomi rakyat kecil tanpa menyelesaikan masalah.

Kedua, negara harus membiayai perang narasi. Kementerian Koperasi dan Kementerian UMKM serta Kementerian Ekonomi Kreatif harus mengubah strategi. Bantuan jangan lagi sekadar alat produksi. Negara harus membantu UMKM menciptakan Nilai Tanda baru.

Kita harus membalik logika simulakra ini bahwa memakai produk lokal adalah bentuk resistensi, keaslian, dan etika. Sebaliknya, memakai sampah impor adalah bentuk inferioritas mentalitas terjajah (inlander). Kolaborasi antara jenama lokal dengan Key Opinion Leaders (KOL) harus digalakkan untuk menanamkan persepsi bahwa Keren itu bukan memakai bekas orang asing, keren itu menghidupi karya saudara sendiri.

Ketiga, konversi pedagang. Ratusan ribu pedagang thrifting adalah korban sistem. Solusi jualan produk lokal jangan hanya jadi jargon. Pemerintah harus memfasilitasi supply chain agar produk lokal bisa masuk ke lapak mereka dengan sistem konsinyasi yang menguntungkan. Jadikan mereka garda terdepan distribusi produk nasional bukan musuh negara.

Pada akhirnya, sudah saatnya kita melakukan dekonstruksi mentalitas secara radikal. Membeli produk UMKM bukan sekadar transaksi ekonomi; itu adalah tindakan politis untuk merebut kembali kedaulatan selera kita.

Mari kita kosongkan lemari kita dari ilusi merek asing yang usang dan mulai mengisinya dengan kebanggaan yang dijahit oleh tangan-tangan terampil anak bangsa. Karena pada akhirnya, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang bangga membungkus tubuhnya dengan sampah bangsa lain, melainkan bangsa yang bermartabat dengan memberi nilai pada karyanya sendiri. (H-4)

Read Entire Article