Irak–Iran dan Arsitektur Keamanan Baru Timur Tengah selepas Kepergian Militer AS

2 days ago 2
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Peta perbatasan antara Irak dan Iran dalam kawasan Timur Tengah. Foto: Shutterstock

Pengosongan Pangkalan Udara Ain al-Asad di Irak Barat, pada 17 Januari 2026, menandai babak simbolik sekaligus substantif dalam perjalanan kedaulatan Irak pasca-invasi 2003. Peristiwa ini bukan sekadar perpindahan logistik militer, melainkan juga titik kulminasi dari proses panjang negosiasi politik, rekonstruksi keamanan, dan redefinisi relasi Irak dengan kekuatan eksternal.

Sejak invasi 2003 hingga fase penarikan 2011, kehadiran militer Amerika Serikat membentuk ulang arsitektur keamanan dan tata kelola Irak. Namun, warisan periode itu juga melahirkan dilema kedaulatan, yaitu antara kebutuhan stabilisasi dan tuntutan otonomi nasional.

Kesepakatan 2024 untuk meninggalkan seluruh pangkalan militer—baik pasukan maupun peralatan militer AS—mengakhiri ambiguitas tersebut.

Dalam perspektif keamanan nasional, penarikan penuh ini menggeser lokus kontrol, dari proteksi eksternal menuju kapasitas domestik. Irak dipaksa sekaligus diberi peluang untuk memantapkan monopoli kekerasan yang sah, konsolidasi komando, dan integrasi institusi keamanan sipil-militer di bawah supremasi politik terpilih.

Secara teoritis, momentum ini selaras dengan prinsip kedaulatan Westphalia. Setiap negara melalui otoritas tertinggi negara memiliki kekuasaan penuh atas wilayah dan urusan internal secara sendiri tanpa ikut campur dari negara asing.

Ilustrasi Bendera Amerika Serikat dan Irak. Foto: Shutter Stock dan Pixabay

Dalam praktik global kontemporer, kedaulatan bukan ketiadaan intervensi semata, melainkan juga kemampuan efektif negara mengelola ancaman, menyediakan layanan publik, dan menjaga legitimasi.

Tantangan terbesar Irak pasca-penarikan adalah transisi dari keamanan berbasis koalisi menuju keamanan berbasis negara. Penanggulangan sisa-sisa ISIS menuntut intelijen terpadu, penegakan hukum presisi, dan kebijakan kontra-radikalisasi yang berjangka panjang, bukan sekadar operasi kinetik.

Dalam kerangka itu, pengakhiran misi koalisi internasional menguji ketahanan institusional Irak. Keberhasilan tidak diukur dari ketiadaan serangan semata, tetapi dari konsistensi reformasi sektor keamanan, profesionalisme angkatan bersenjata, dan akuntabilitas anggaran pertahanan.

Reaksi regional memberi konteks penting. Iran mengapresiasi penarikan sebagai pencapaian kedaulatan penuh Irak dan prasyarat stabilitas pemerintahan mandiri. Sikap ini mencerminkan kalkulasi keamanan kawasan; Irak yang berdaulat dan stabil mengurangi risiko spillover konflik.

Kesepakatan kerja sama strategis antara Irak dan Iran—terutama pada eksistensi dan keamanan kawasan—mengindikasikan pergeseran keseimbangan regional. Kerja sama perbatasan, pertukaran intelijen, dan koordinasi ekonomi-keamanan dapat menjadi penyangga terhadap aktor non-negara dan ancaman transnasional.

Ilustrasi bendera Irak. Foto: Sabah ARAR / AFP

Namun, teori keseimbangan kekuatan mengingatkan: otonomi strategis harus dijaga agar kemitraan tidak berubah menjadi ketergantungan. Irak perlu merancang kebijakan luar negeri berlapis (multi-vector), menjaga relasi konstruktif dengan tetangga, sekaligus membuka kanal kerja sama global non-militer.

Dari sudut pandang governance, penarikan militer eksternal menutup ruang justifikasi bagi politik securitization yang berlebihan. Ini membuka peluang normalisasi politik, desentralisasi fiskal yang terukur, dan rekonsiliasi nasional sebagai syarat utama stabilitas jangka panjang.