(MI/Duta)
PERAYAAN Imlek kini tidak lagi sembunyi-sembunyi. Imlek bahkan sudah menjadi bagian dari perayaan hari besar dan tradisi budaya masyarakat Indonesia yang multipluralis. Mal-mal atau pusat perbelanjaan kini banyak didominasi warna merah, simbol keberuntungan, kebahagiaan, dan kekuatan untuk mengusir energi negatif. Nian ialah monster dalam legenda masyarakat Tionghoa yang takut pada warna merah dan suara bising. Jadi, dominasi warna merah dan bunyi keras petasan tujuan simbolisnya diperuntukkan mengusir kekuatan jahat.
Perayaan Imlek di Indonesia kini telah mengalami akulturasi yang unik. Barongsai dan liong (tarian naga) yang melambangkan keberuntungan dan kekuatan tidak lagi tampil tunggal. Kesenian masyarakat Tionghoa itu sering kali ditampilkan bersama dengan kesenian lokal lainnya. Pertunjukan barongsai kini tidak hanya dinikmati warga keturunan Tionghoa, tetapi juga menjadi tontonan publik yang menyenangkan dan memukau. Banyak masyarakat menikmati penampilan tarian barongsai dan liong sebagai bagian dari kesenian bersama.
SEJUMLAH GANJALAN
Berbeda dengan masa lalu saat Imlek masih dianggap tabu, dan bahkan dilarang untuk dirayakan, kini masyarakat Indonesia tidak lagi mempersoalkan perayaan Imlek dengan segala pernak-perniknya. Di beberapa mal sering kali terlihat penduduk lokal tak jarang sengaja memakai pakaian warna merah sekadar untuk ikut meramaikan suasana. Mereka tidak canggung berfoto di depan aksesori yang didominasi warna merah. Wajah mereka tampak gembira seolah ikut menikmati dan paham makna perayaan Imlek.
Pada masa Orde Baru, kita tahu perayaan Imlek dibatasi secara ketat di ruang privat melalui Inpres No 14 Tahun 1967. Imlek umumnya dirayakan secara tertutup. Warga keturunan Tionghoa merayakan Imlek dengan sembunyi-sembunyi. Suasana baru berubah pada era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dengan pencabutan inpres itu dan penetapan Imlek sebagai libur nasional, warga Tionghoa-Indonesia seolah mendapatkan kembali hak budaya mereka. Kini, Imlek bukan lagi sekadar pesta adat, melainkan juga hari libur nasional yang dirayakan bersama oleh masyarakat Indonesia: simbol dari kembalinya pengakuan terhadap keberagaman yang merupakan fondasi sosial bagaimana Indonesia membangun diri sebagai sebuah bangsa.
Menjelang perayaan Imlek, di berbagai tempat kita bisa melihat ucapan gong xi fa cai, yang artinya semoga mendapatkan kekayaan. Di media sosial, ucapan itu bahkan sering berseliweran: tidak hanya diucapkan sesama etnik Tionghoa, tetapi juga disampaikan orang-orang dari etnik non-Tionghoa. Itu ialah refleksi dari semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Imlek menegaskan Tionghoa-Indonesia ialah bagian dari tenun kebangsaan yang sama. Sejarah masa lalu yang sempat membatasi kini telah berganti menjadi sejarah yang membebaskan dan merangkul.
Kalau melihat meriahnya perayaan Imlek di pusat-pusat perbelanjaan, kita selayaknya mengapresiasi dan bersyukur atas warna-warni sosial dari kehidupan kita sebagai bangsa yang multipluralis. Namun, melihat perayaan Imlek saat ini sesungguhnya juga membawa campuran perasaan: sukacita atas inklusivitas yang membaik, tetapi juga kewaspadaan terhadap residu problem sosial yang belum sepenuhnya hilang.
Dalam batas-batas tertentu, diakui atau tidak, sebagian masyarakat sebetulnya masih belum sepenuhnya keluar dari luka sejarah dan narasi asimilasi paksa. Kita tidak bisa membahas Imlek tanpa menengok sejarah kelam pada masa lalu. Selama hampir 60 tahun, yakni ketika diberlakukan Inpres Nomor 14 Tahun 1967, sejak itulah Indonesia menjadi 'penjara' bagi ekspresi budaya Tionghoa. Imlek dilarang dirayakan di muka umum, dipaksa masuk ke ruang privat, dan identitas Tionghoa dipinggirkan ke pinggir jurang marginalisasi.
Problematika utama selama masa itu ialah campuran antara kesenjangan antarkelas dan eksklusivisme yang rentan dipolitisasi. Etnik Tionghoa tidak sekali-dua kali dijadikan kambing hitam dalam gejolak sosial, menghasilkan stigma yang melekat kuat. Narasi 'asimilasi' yang digaungkan saat itu sesungguhnya ialah bentuk asimilasi paksa yang tidak manusiawi, dengan budaya asli harus dikubur, nama diganti, dan tradisi dilupakan agar dianggap 'menjadi Indonesia'.
Meskipun Gus Dur, melalui Keppres No 19/2002, telah mencabut larangan tersebut dan menjadikannya libur fakultatif, hingga kemudian diresmikan sebagai hari libur nasional oleh Presiden Megawati pada 2003, ternyata luka sejarah tersebut tidak juga hilang dalam satu-dua tahun.
Secara garis besar, ada beberapa masalah yang masih mengganjal di balik kemeriahan perayaan Imlek yang makin terbuka.
Pertama, berkaitan dengan konstruksi sosial eksklusivisme dan stereotip kelas ekonomi. Diakui atau tidak, masih ada narasi yang menyederhanakan Imlek hanya sebagai perayaan etnik 'kaya', yang mengabaikan fakta bahwa warga Tionghoa-Indonesia (Tionghoa-Indo) memiliki spektrum ekonomi yang luas, sama seperti etnik lainnya.
Kedua, komodifikasi budaya. Sering kali, Imlek hanya dirayakan secara permukaan (eksotisme). Barongsai dipentaskan, pakaian merah dipakai, tetapi esensi Imlek sebagai momen penghormatan leluhur, penguatan ikatan keluarga, dan berbagi kebahagiaan (solidaritas sosial) sering terabaikan. Masih ada kesan bahwa perayaan Imlek telah mengalami entropi budaya, yakni bisa dilihat simbol-simbol lahiriahnya saja, tetapi makna kulturalnya tidak lagi kuat.
Ketiga, yang paling krusial, ialah residu rasialisme dan diskriminasi yang tak juga kunjung terhapuskan. Meskipun secara hukum perayaan Imlek dilindungi, prasangka rasialisme masih terselip dalam interaksi sosial dan media sosial. Pandangan 'pribumi vs nonpribumi' ialah warisan kolonial yang masih sering diaktifkan kembali untuk berbagai kepentingan politik.
REFLEKSI
Imlek atau sering pula disebut Sinchia sesungguhnya bukan sekadar penanda pergantian tahun dalam kalender Tionghoa. Imlek ialah festival musim semi, yang merupakan perayaan rasa syukur atas kehidupan, sekaligus momen reuni keluarga yang paling dinanti.
Saat ini, Imlek tentu diharapkan menjadi momentum mampu membangun kohesivitas dan merupakan bagian tak terpisahkan dari narasi keberagaman Indonesia. Masih adanya sisa-sisa problem sosial seperti diskriminasi etnik dan residu rasialisme ialah pekerjaan rumah kita bersama yang harus dikikis demi Indonesia yang lebih baik. Perayaan Imlek tahun ini harus menjadi momentum untuk memastikan rasialisme dan prasangka etnik tidak memiliki tempat di Tanah Air.
Negara yang terus-menerus dikoyak perbedaan dan syak wasangka niscaya tidak akan pernah berhasil beringsut menjadi negara yang lebih sejahtera. Energi dari waktu ke waktu akan habis karena digerus pertikaian yang tak berkesudahan. Setiap kali kita merayakan Imlek, ia mengingatkan kita bahwa kebersamaan ialah aset sosial termahal. Indonesia, dengan kekayaan budaya yang beragam, hanya akan kuat jika kita terus merawat keberagaman sebagai modal sosial dan budaya yang bermanfaat.
Saat kita merayakan Imlek, kita merayakan fakta bahwa kita semua berbeda, tetapi berada dalam satu atap yang sama: Indonesia. Perayaan Imlek mengajarkan kita bahwa memperkaya budaya (multikulturalisme) ialah kekuatan, bukan ancaman terhadap identitas nasional.

5 hours ago
4




















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5446533/original/081108700_1765900369-WhatsApp_Image_2025-12-16_at_22.42.43__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5445764/original/073964100_1765864105-WhatsApp_Image_2025-12-16_at_12.36.50.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5348757/original/097572500_1757872802-Ruben-Amorim.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4253782/original/008523100_1670476796-Jepretan_Layar_2022-12-08_pukul_12.17.44.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325993/original/062409700_1756072868-AP25236767547210.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4580556/original/092818400_1695101161-robina-weermeijer-z8_-Fmfz06c-unsplash.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5307781/original/080682700_1754481117-Ro.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5394894/original/052191200_1761643550-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429570/original/054081400_1764606003-MV5BMDAxOWRmNjMtYWZkOS00YzIxLTgxMDktNjhjOThhY2QxZjM3XkEyXkFqcGc_._V1_FMjpg_UY1995_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5376982/original/062419800_1760070989-iPhone_17_Pro_Series_01.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5445012/original/015735000_1765796708-WhatsApp_Image_2025-12-15_at_16.21.00.jpeg)