Generasi Doom-Scrolling: Kesepian yang Disamarkan Jadi Tren Viral

9 hours ago 3
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Sumber: Unsplash by Austin Distel

Sampai tahun 2026, kesepian selalu menjadi topik yang menarik dibicarakan. Mulai dari zaman filsuf Yunani sampai sekarang, manusia enggak pernah lepas dari rasa kesepian, maka karena itu pembahasannya enggak habis-habis.

Namun, spesifik menghadapi tantangan zaman sekarang, kesepian yang dialami manusia sekarang bisa diasosiasikan dengan fenomena overconsumption dan brain rot. Dari mana ini datangnya semua? media sosial. Aku berani jamin.

Penonton setia harian teman di media sosial

Tiap hari doom-scrolling TikTok, Instagram, menyaksikan hidup selebriti internet dan teman-teman merupakan salah satu dari penyebab brain rot.

Tanpa sadar, media sosial sudah jadi televisi. Hiburan satu arah tanpa menghadirkan koneksi personal dua arah atau yang disebut hubungan parasosial. Algoritma sekarang memang sangat mengedepankan ‘produk atau konten’ daripada hubungan intim.

Kita jadi penonton hariannya teman-teman kita yang mengunggah konten-konten terkurasi dengan respon maksimal dari kita adalah menekan tombol like, alih-alih berpartisipasi di dalamnya dan terlibat. Pada akhirnya kita overconsumption konten-konten pendek tersebut tanpa henti dan menjadikannya salah satu sumber hiburan kita.

Tren harian di internet dan masalah spiritual manusia

Sejauh ini kita semua kenal tren labubu, ceremonial matcha, tumbler ratusan ribu bahkan jutaan, kopi dalgona, cokelat dubai dan tren lainnya yang pergantiannya dalam hitungan hari.

Kita coba semuanya. Satu per satu. Lalu kita unggah untuk menandakan bahwa kita enggak ketinggalan tren itu. Bahwa kita telah sah masuk ke dalam grup yang sudah mengkhatamkan trennya.

Tanpa sadar semakin dikonsumsi, kita semakin lapar. Semakin dituruti, semakin bertambah keinginan-keinginan lain. Overconsumption

Ini jatuhnya masalah spiritual enggak, sih? Kita enggak benar-benar tahu apa yang diinginkan dalam hidup, nilai apa yang kita pegang, sehingga kita malah jatuh ke tren-tren yang acak dan enggak mencerminkan kita secara pribadi.

Jangan-jangan kita mengikuti tren terus-terusan karena sebenarnya enggak punya nilai dan falsafah yang seyogianya mendefinisikan diri kita yang murni?

Atau kita mungkin senang dengan sensasi bahwa akhirnya mendapatkan yang kita inginkan, ketika dalam hidup realitanya banyak yang enggak bisa kita dapatkan semudah check out belanjaan.

---

Manusia itu pada dasarnya ingin belong to somewhere dan merasakan keintiman/koneksi secara personal. Manusia purba dulu hidup terbagi ke dalam suku-suku agar merasa aman dan terkoneksi. Enggak beda jauh sama manusia modern. Bedanya cuma di mediumnya. Kita ingin berada di realitas yang sama dengan teman-teman online lewat belanja tren

untuk menunjukkan seberapa online kita sehingga layak masuk ke grup tersebut.

Kita itu cuma kesepian, ingin mengisi kekosongan dengan masuk grup-grup yang sebenarnya enggak kita banget. Tapi semua orang ada disitu, semua orang melakukannya.

Dari yang seharusnya berinteraksi secara intim dengan teman dan keluarga di kehidupan nyata; atau mungkin berkoneksi secara intens dan dalam dengan mereka di media sosial kita malah memilih jatuh ke obsesi grup trendi dari internet.

Berharap dengan berada di dalam grup tersebut kekosongan tadi bisa terisi dari mengonsumsi hal yang sama. Mengaburkan dan menjauhkan nilai yang kita harusnya pikirkan.

Kebutuhan mendalam untuk terkoneksi dan mengikis rasa kesepian adalah dengan berhenti hidup di dunia maya dan mulai lihat dunia nyata. Barang-barang tersebut cuma fana dan enggak ada artinya, enggak benar-benar mengisi lubang yang melompong di hati kita.

Read Entire Article