CSIS Jelaskan Dampak Putusan MK soal Pisah Pemilu Terhadap Suara Parpol-Koalisi

3 days ago 3
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Rapat dengar pendapat Komisi II DPR tentang masukan terhadap desain dan permasalahan pemilu di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Center for Strategic and International Studies (CSIS) menilai putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang memisahkan pemilu nasional dan pemilu lokal tidak serta-merta menciptakan keseragaman koalisi partai politik antara tingkat pusat dan daerah.

Kepala Departemen Politik dan Sosial CSIS, Arya Fernandes, menegaskan putusan MK terkait pemisahan pemilu yang akan mendorong koalisi nasional terbawa ke daerah tidak sesuai dengan fakta politik di lapangan.

“Benarkah pemisahan pemilu lokal dan nasional akan mendorong koalisi yang sama di tingkat nasional, di tingkat lokal? Ini juga sama sekali enggak akan terjadi. Secara empiris tidak akan terjadi. Karena koalisi kita itu sangat cair sekali,” ujar Arya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi II DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1).

Arya menjelaskan, cairnya koalisi partai di Indonesia dipengaruhi oleh kepentingan dan kekuatan politik lokal yang berbeda-beda di setiap daerah. CSIS pun menganalisis data Pilkada Serentak 2024 pada level pemilihan gubernur.

“Saya mencoba menggunakan data di Pilkada serentak 2024. Di level gubernur. Ada 103 calon gubernur yang maju di 37 provinsi. Saya lakukan analisis peta, kami menempatkan Partai Gerindra sebagai objek, ya, karena sebagai partai yang tengah berkuasa,” jelas Arya.

Warga menggunakan hak politiknya ketika mengikuti Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pemilu 2019 di TPS 02, Pasar Baru, Jakarta, Sabtu (27/4). Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Arya menyebut, pola koalisi di daerah justru menunjukkan kompetisi lintas partai, termasuk dengan partai yang di tingkat nasional berada dalam satu koalisi.

“Misalnya hasilnya ini menunjukkan, Gerindra berkompetisi dengan PDIP di 17 provinsi. Gerindra berkompetisi dengan Demokrat, yang di nasional dua partai ini berkoalisi, di 8 provinsi. Berkompetisi dengan Golkar di 6 provinsi. Dengan PKB di 6 provinsi. Dengan PKS di 2 provinsi,” ungkapnya.

Menurutnya, data tersebut menegaskan pemisahan pemilu nasional dan lokal tidak akan menyeragamkan suara partai atau koalisi di daerah.

“Jadi secara empiris enggak mungkin kalau pemilu nasional dan pemilu lokal dipisah, itu akan menciptakan koalisi yang sama. Itu secara empiris tidak akan mungkin terjadi,” tuturnya.

Arya menambahkan, perbedaan koalisi tersebut dipicu oleh penguasaan teritorial dan kepentingan elektoral masing-masing partai di daerah.

“Jadi partai di daerah, di satu daerah pemilihan, di provinsi pasti ingin mendorong kandidatnya untuk maju,” kata Arya.

Pengamat Politik CSIS, Arya Fernandes. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan

Selain dampak terhadap koalisi dan suara partai, CSIS juga menyoroti dalil MK yang menyebut keserentakan pemilu memperberat beban kerja penyelenggara. Arya menilai hubungan tersebut tidak bersifat sebab-akibat.

“Menurut saya itu hubungan yang bukan sebab akibat. Harusnya, untuk menyelesaikan beban penyelenggara pemilu yang berat itu, solusinya adalah bukan mengubah sistemnya, karena ini soal perilaku, tetapi bagaimana kita menyelesaikan beban yang besar itu, kita kurangkan bebannya itu,” ungkap Arya.

Ia menilai perubahan sistem secara mendasar justru berisiko menimbulkan dampak yang sulit dikendalikan.

Seb...

Read Entire Article