Rasch untuk Penilaian Bermakna

3 hours ago 3
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Rasch untuk Penilaian Bermakna (Dok. Pribadi)

LAPORAN hasil TKA SMA yang dirilis Kemendikdasmen masih berkutat pada peringkat dan perbandingan antarsiswa, alih-alih menjabarkan capaian kompetensi secara detail sesuai dengan kurikulum. Instrumen penilaian memang sudah berbasis kurikulum, tetapi interpretasi hasilnya terjebak dalam paradigma normatif yang gagal menjawab pertanyaan paling mendasar: kompetensi apa yang sudah dan belum dikuasai siswa?

FUNGSI PENTING PENILAIAN

"Bagaimana guru mengetahui bahwa siswa telah belajar sebelum mereka diuji?" Ungkapan itu menunjukkan penilaian merupakan komponen yang bobotnya setara dengan proses pembelajaran. Hasil penilaian berfungsi sebagai sarana memperoleh informasi mengenai ketercapaian tujuan pembelajaran.

Melalui penilaian, guru dapat mengetahui sejauh mana siswa menguasai kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum, sekaligus mengevaluasi efektivitas proses pembelajaran. Karena itu, penilaian tidak dapat dipisahkan dari kurikulum dan pembelajaran. Penilaian harus dirancang secara terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran.

Anthony J Nitko (1994) menegaskan penilaian yang baik memberikan informasi bermakna untuk perbaikan pembelajaran, membantu guru mengambil keputusan, dan mendukung siswa memahami kemajuan belajarnya. Penilaian ialah bagian integral dari sistem pembelajaran berkelanjutan, bukan sekadar alat seleksi.

PENILAIAN BERBASIS KURIKULUM

Konsep penilaian berbasis kurikulum diperkenalkan Nitko (1994) sebagai kritik terhadap praktik penilaian yang tidak selaras dengan tujuan kurikulum. Dalam pendekatan itu, kurikulum menjadi dasar utama dalam menentukan apa yang dinilai, bagaimana penilaian dilakukan, dan bagaimana hasil penilaian diinterpretasikan.

Penilaian harus diturunkan langsung dari tujuan, kompetensi, dan standar yang tertuang dalam kurikulum. Penilaian yang tidak berbasis kurikulum berpotensi menghasilkan informasi yang tidak relevan bagi pembelajaran. Penilaian yang hanya berfokus pada perbandingan antarsiswa, tanpa memperhatikan kompetensi yang harus dikuasai, dapat mengaburkan tujuan pendidikan.

Penilaian berbasis kurikulum, seperti TKA, menuntut keselarasan antara tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan penilaian. Dalam kerangka itu, penilaian berfungsi menjawab pertanyaan utama: apakah siswa telah mencapai kompetensi yang ditetapkan kurikulum? Keberhasilan belajar diukur dari penguasaan standar yang telah ditetapkan.

Namun, kurikulum yang jelas saja tidak cukup. Cara kita membaca hasil penilaian, bagaimana menginterpretasikan skor siswa, sama pentingnya dengan desain penilaian itu sendiri.

PENILAIAN DENGAN ACUAN NORMA

Penilaian acuan norma menginterpretasikan hasil belajar siswa dengan membandingkannya terhadap hasil belajar siswa lain dalam suatu kelompok. Fokusnya ialah posisi relatif seseorang: peringkat, persentil, atau standar deviasi.

Dalam pendekatan itu, makna suatu skor bergantung pada karakteristik kelompok. Seorang siswa dapat dinyatakan berprestasi tinggi apabila nilainya di atas rata-rata kelompok meskipun secara absolut penguasaan kompetensinya belum tentu memadai.

Pendekatan itu sering digunakan untuk keperluan seleksi, klasifikasi, atau penentuan peringkat. Namun, dalam konteks pembelajaran berbasis kurikulum, pendekatan itu kurang mampu memberikan informasi tentang apa yang telah dan belum dikuasai siswa.

PENILAIAN DENGAN ACUAN KRITERIA

Berbeda dengan acuan norma, penilaian acuan kriteria menginterpretasikan hasil belajar berdasarkan kriteria atau standar tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Fokusnya ialah tingkat penguasaan kompetensi, bukan perbandingan dengan siswa lain.

Dalam pendekatan itu, siswa dinyatakan tuntas apabila telah memenuhi standar yang ditetapkan, terlepas dari kinerja siswa lain. Pendekatan itu selaras dengan tujuan pendidikan berbasis kurikulum karena menekankan pencapaian kompetensi yang telah dirumuskan secara eksplisit. Contoh penerapannya antara lain kriteria ketuntasan minimal (KKM), uji kompetensi, dan penilaian berbasis standar.

Nitko menegaskan penilaian acuan kriteria lebih sesuai dengan prinsip penilaian berbasis kurikulum. Melalui pendekatan itu, hasil penilaian dapat digunakan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan siswa secara spesifik sehingga memberikan dasar yang kuat bagi perbaikan pembelajaran. Selain itu, penilaian acuan kriteria dinilai lebih adil karena setiap siswa dinilai berdasarkan standar yang sama, bukan berdasarkan performa kelompok.

Dalam konteks penilaian berbasis kurikulum seperti TKA, menurut penulis, penilaian acuan kriteria memiliki keunggulan karena mampu memberikan informasi lebih bermakna bagi pembelajaran dan evaluasi kurikulum. Acuan norma cenderung menghasilkan distribusi nilai yang relatif tetap sehingga selalu ada siswa pada kategori rendah. Sebaliknya, acuan kriteria memungkinkan seluruh siswa mencapai ketuntasan apabila standar pembelajaran telah dikuasai. Pendekatan itu sejalan dengan upaya Mendikdasmen untuk meningkatkan pendidikan bermutu untuk semua.

IRONI LAPORAN TKA

TKA didesain berbasis kurikulum. Namun, laporan hasil TKA SMA dan sederajat yang dirilis Kemendikdasmen masih sebatas membandingkan pencapaian siswa. Dengan kata lain, instrumen penilaian sudah dirancang berbasis kurikulum, tetapi interpretasi hasilnya masih menggunakan kacamata acuan norma. Guru dan siswa memperoleh informasi tentang peringkat, tetapi tidak mendapat gambaran jelas: kompetensi mana yang sudah dikuasai, mana yang belum, dan apa langkah perbaikan selanjutnya.

MODEL RASCH SEBAGAI SOLUSI

Analisis butir soal model Rasch menawarkan jalan keluar. Model itu merupakan salah satu model dalam item response theory (IRT) yang memungkinkan pengukuran kemampuan hasil belajar siswa secara objektif dan independen dari kelompok sampel (sample invariant).

Dalam model Rasch, probabilitas seseorang menjawab suatu butir soal dengan benar ditentukan perbedaan antara kemampuan individu dan tingkat kesulitan soal. Model itu menghasilkan skala pengukuran interval (logit) yang bersifat invarian sehingga mendukung interpretasi hasil secara acuan kriteria.

Penggunaan model Rasch sejalan dengan prinsip penilaian berbasis kurikulum. Dengan model itu, tingkat kemampuan siswa dapat dipetakan secara jelas terhadap tingkat kesulitan soal yang merepresentasikan kompetensi kurikulum. Hal itu memungkinkan penetapan batas ketuntasan berdasarkan kemampuan, bukan berdasarkan distribusi skor kelompok. Dua siswa sama-sama skor 70, misalnya. Laporan biasa menyatakan mereka setara, tetapi model Rasch mengungkap: A unggul di dasar, B unggul di tingkat tinggi.

Selain itu, model Rasch menyediakan informasi diagnostik penting seperti kesesuaian soal dengan model (item fit), unidimensionalitas, dan peta person-item (Wright map). Informasi itu dapat digunakan untuk mengevaluasi kualitas instrumen penilaian serta memastikan soal-soal yang digunakan benar-benar mengukur kompetensi yang dimaksud. Analisis model Rasch memperkuat penilaian berbasis kurikulum dengan mengubah TKA dari sekadar alat pemeringkatan menjadi instrumen diagnostik yang bermakna.

Dengan mengadopsi model Rasch dalam pengolahan hasil TKA, kita melangkah menuju pendidikan bermutu untuk semua. Wallahu a'lam bishshawab.

Read Entire Article