Poligami dan Ilusi Kesalehan: Agama Dijadikan Pembenaran Pilihan Pribadi

1 week ago 10
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Ilustrasi poligami. Foto: Abil Achmad Akbar/kumparan dan Indra Fauzi/kumparan

Isu poligami kembali ramai ketika narasi religius dijadikan landasan pembenaran pilihan pribadi. Di ruang publik, legitimasi agama kerap dipakai untuk membungkam kritik, seolah persoalan ini hanya urusan iman semata. Padahal, di baliknya terdapat persoalan serius tentang keadilan, relasi kuasa, dan dampaknya bagi pihak yang paling rentan.

Pernyataan yang merevisi pandangan lama tentang poligami dengan alasan menghormati syariat tampak sebagai klarifikasi moral. Namun jika dibaca lebih jernih, kita melihat kecenderungan menyederhanakan persoalan yang sejatinya sangat rumit. Poligami bukan hanya soal boleh atau tidak boleh secara hukum agama, melainkan menyangkut keadilan relasi, persetujuan yang sungguh-sungguh, dampak psikologis, serta posisi tawar perempuan dalam struktur sosial yang belum setara.

Tafsir Keagamaan dan Ruang Kritik

Masalah muncul ketika legitimasi agama dipakai sebagai tameng argumen. Kritik terhadap praktik poligami lalu dianggap identik dengan penghinaan terhadap ajaran agama atau tokoh-tokoh suci. Pola pikir semacam ini menutup ruang diskusi rasional dan memaksa publik menerima satu tafsir moral sebagai kebenaran tunggal. Padahal, agama dalam tradisi intelektual Islam justru membuka ruang ijtihad, diskusi, dan pembacaan kontekstual terhadap realitas sosial.

Poligami dalam Perspektif Teks dan Fikih

Jika kembali kepada teks dasar, Al-Quran tidak pernah mempromosikan poligami sebagai jalan mudah. Dalam QS. An-Nisa' ayat 3, poligami dibolehkan dengan syarat utama: keadilan. Namun pada ayat 129, Al-Quran secara jujur mengingatkan bahwa manusia tidak akan mampu berlaku adil sepenuhnya, meskipun sangat menginginkannya. Pesan ini sering terpotong dalam wacana publik. Yang diingat adalah “bolehnya”, sementara peringatan moralnya dikesampingkan.

Citra Kesalehan dan Ketimpangan Relasi

Dalam tradisi fikih, poligami dipahami sebagai rukhsah, keringanan dalam situasi tertentu, bukan norma ideal kehidupan keluarga. Tujuan utama syariat adalah menjaga martabat manusia, ketenteraman rumah tangga, dan perlindungan pihak yang rentan. Bahkan kaidah hukum Islam menegaskan bahwa mencegah kerusakan harus didahulukan daripada mengejar manfaat. Jika suatu praktik berpotensi melahirkan luka batin, konflik struktural, atau ketimpangan kuasa, maka secara etis praktik tersebut layak dibatasi.

Sayangnya, di ruang publik, poligami sering direduksi menjadi simbol kesalehan dan keberanian spiritual. Narasi ini berisiko karena memindahkan fokus dari tanggung jawab konkret ke citra moral. Persetujuan perempuan bisa tereduksi menjadi formalitas, bukan kehendak bebas yang lahir tanpa tekanan sosial, ekonomi, atau simbolik. Dalam situasi seperti ini, agama berisiko berubah fungsi: dari sumber etika menjadi alat legitimasi kekuasaan dalam relasi intim.

Etika Keadilan dan Integritas Pilihan Pribadi

Lebih problematis lagi, pembenaran personal kerap mengabaikan suara pihak yang menolak atau terluka. Ketika pengalaman mereka tidak dianggap sebagai pertimbangan etis yang sah, maka relasi menjadi timpang. Keadilan tidak lagi diukur dari kesejahteraan semua pihak, melainkan dari kepatuhan terhadap simbol moral tertentu. Yang perlu dijaga bukan citra kesalehan, melainkan keberlanjutan nilai keadilan agar tidak dipersempit oleh tafsir agama yang hanya dipakai untuk mengamankan kepentingan personal.

Menghormati ajaran agama tidak berarti membungkam pertanyaan etis. Justru penghormatan sejati terletak pada keberanian menempatkan nilai keadilan, empati, dan tanggung jawab sebagai pusat praktik keberagamaan. Agama tidak pernah dimaksudkan untuk mempermudah manusia membenarkan keinginannya, tetapi untuk membatasi nafsu kuasa dan melindungi yang rentan.

Poligami, jika memang ditempuh, bukanlah jalan pintas menuju kemulia...

Read Entire Article