Photo booth kini menjadi salah satu aktivitas populer di kalangan remaja Indonesia. Di pusat perbelanjaan, kafe, hingga studio kecil yang tersebar di berbagai kota, bilik-bilik foto berkonsep estetik itu tidak pernah sepi pengunjung. Dengan pencahayaan yang lembut, frame-frame lucu, dan proses cetak cepat, photo booth menawarkan pengalaman berfoto yang praktis namun tetap menarik. Bagi banyak remaja, pengalaman ini bukan sekadar aktivitas iseng, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup digital mereka. Fenomena serupa juga muncul dalam refleksi sebelumnya, di mana kegiatan photo booth semakin melekat pada aktivitas nongkrong dan pertemanan remaja masa kini.
Di era media sosial, foto memiliki makna yang jauh lebih besar dari sekadar dokumentasi. Ia menjadi bahasa visual untuk mengekspresikan diri, membangun identitas, dan menunjukkan keberadaan di dunia digital. Tidak heran jika hasil photo booth yang rapi dan estetik sangat cocok untuk dipamerkan di Instagram atau TikTok. Banyak remaja datang ke studio photo booth tertentu karena melihat tempat itu viral di media sosial, atau karena influencer favorit mereka merekomendasikannya. Pada titik ini, terlihat bahwa tren photo booth tidak hanya dibangun oleh kebutuhan pribadi, tetapi juga oleh arus budaya digital yang memengaruhi preferensi visual remaja. Bahkan remaja rela mengantre lama hanya untuk berfoto di studio yang sedang naik daun, menunjukkan betapa kuatnya daya tarik tren tersebut.
Ketika Tren Menjadi Gaya Hidup
Di media sosial, tren visual berkembang cepat. Satu video TikTok yang menampilkan photo booth lucu bisa dengan mudah menjadi pemicu antrian panjang di studio foto keesokan harinya. Remaja terdorong bukan hanya oleh keinginan mendokumentasikan momen, tetapi juga oleh rasa ingin “terlihat up to date”.
Dalam konteks ini, photo booth menjadi simbol gaya hidup: remaja ingin menunjukkan bahwa mereka bagian dari tren yang sedang populer. Hasil foto pun bukan lagi milik pribadi. Ia berubah menjadi “konten” yang harus tampil bagus, proporsional, dan estetik. Hal inilah yang membuat sebagian remaja rela mengeluarkan biaya lebih hanya demi mendapatkan foto yang “Instagramable”.
Pengaruh dari Industri Budaya dan Media Sosial
Jika kita melihat lebih dalam, tren photo booth ini tidak muncul secara alami. Ia adalah hasil dari kerja industri kreatif dan digital yang sangat mahir menciptakan tren baru. Studio photo booth berlomba-lomba membuat konsep yang unik: frame monokrom, gaya retro, tone pastel, hingga efek vintage seperti film analog. Konsep-konsep ini dibuat agar langsung cocok dengan selera visual remaja.
Di sinilah analisis sosial mulai terasa. Fenomena ini menunjukkan bagaimana remaja sering kali mengikuti pola yang telah dikurasi oleh industri: dari pilihan frame, cara berpose, hingga warna foto yang dianggap “cantik”. Foto yang terasa personal ternyata mengikuti pola estetika yang sama di banyak tempat. Tren visual ini dapat membuat remaja mengira mereka sedang mengekspresikan diri, padahal sebenarnya mereka mengikuti standar yang telah ditentukan pasar, influencer, dan algoritma media digital. Remaja merasa bebas memilih, tetapi pilihan-pilihan itu sudah diarahkan kepada apa yang sedang viral dan layak dilihat publik.
Media sosial memperkuat pola ini. Foto yang bagus dan estetik sering kali mendapatkan respon positif: like, komentar, atau pesan “gemes banget”. Respon ini menimbulkan rasa senang dan motivasi untuk melakukannya lagi. Tanpa disadari, muncul tekanan halus: jika tidak ikut photo booth, takut dianggap ketinggalan tren; jika hasil fotonya biasa saja, takut terlihat kurang estetik dibanding teman lain.
Tekanan inilah yang membuat photo booth menjadi bagian dari ritual digital remaja. Aktivitas fisik berpose, memilih frame berkaitan erat dengan aktivitas digital: posting, membangun citra diri, dan mendapatkan validasi sosial. Fenomena ini juga selaras dengan penjelasan dalam file bahwa remaja kini lebih berfokus pada pencitraan dan validasi, bukan lagi pada momen itu sendiri.
Antara Ekspresif dan Konsumtif
Fenomena ini menunjukkan bagaimana konsumsi visual dalam kehidupan remaja kini sangat dipengaruhi oleh kapitalisme dan teknologi digital. Hiburan dan konsumsi melebur menjadi satu; remaja merasa senang melakukannya, padahal secara tidak langsung mereka mengikuti arus pasar yang terus mendorong konsumsi baru. Kegiatan yang tampak sederhana seperti berfoto justru menjadi contoh bagaimana industri kreatif menciptakan kebutuhan yang terasa alami. Industri budaya mampu membuat masyarakat pasif dan mengikuti tren tanpa banyak mempertanyakan maknanya, sehingga bentuk konsumsi seperti ini berlangsung terus-menerus tanpa disadari.
Pada akhirnya, tren photo booth pada remaja merupakan gambaran perubahan budaya visual dan pola konsumsi dalam masyarakat digital. Aktivitas ini tetap bisa membawa kesenangan, kreativitas, dan kedekatan antar teman. Namun penting bagi remaja untuk menyadari bahwa tidak semua tren perlu diikuti, dan bahwa ekspresi diri yang autentik tidak harus selalu sesuai standar estetika yang sedang populer. Kesadaran kritis diperlukan agar remaja tetap mampu me...

4 hours ago
2




















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5368069/original/029796200_1759335348-IMG_20251001_174918_465.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5366602/original/044891100_1759247254-Ringkasan_Fitur_Baru_Live_Photos_WhatsApp.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364361/original/085359400_1759083013-Project_Kuiper_Amazon.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5368278/original/022363000_1759370649-UNCROPPED_HUAWEI_X_MO_FARAH_HIGH_RES_RETOUCHED_UNCROPPED_V1_4__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5368734/original/054940800_1759389006-4._OPPO_A6_Pro.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5368252/original/072723900_1759368570-MPL_ID_S16_01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5368592/original/052082700_1759382673-WhatsApp_Image_2025-10-02_at_11.55.17__2_.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363002/original/094188800_1758879277-Vibes_Meta_AI.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4605932/original/093592600_1696943429-igor-omilaev-FHgWFzDDAOs-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5343579/original/036800100_1757443458-iPhone_17_01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5236191/original/021182700_1748493363-image002.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4388674/original/024066900_1681094741-logo-ea-sports-fc.png.adapt.1456w.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5357242/original/017691500_1758523929-IMG_20250922_110751_383.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5278336/original/021752600_1752063811-Galaxy_Z_Fold7_dan_Flip7_05.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364673/original/002689600_1759123307-xnghan_p2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5080104/original/087826400_1736158590-20250106-Dapur_MBG-MER_4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5381343/original/033703500_1760501307-Cara-Arsitektur-AI-Native-ERP-ScaleOcean-Pastikan-Analisis-Data-Bisnis-Akurat.jpg)