Pembahasan Revisi UU Pemilu, CSIS Usulkan Penurunan Bertahap Ambang Batas Parlemen

4 days ago 3
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Pembahasan Revisi UU Pemilu, CSIS Usulkan Penurunan Bertahap Ambang Batas Parlemen Ilustrasi(Dok Istimewa)

PEMBAHASAN revisi Undang-Undang (UU) Pemilu di Komisi II DPR RI menyoroti isu ambang batas parlemen (parliamentary threshold) yang dinilai memiliki dampak besar terhadap fragmentasi politik, stabilitas pemerintahan, dan derajat keterwakilan di DPR. 

Isu ini mengemuka seiring putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 116 yang menekankan pentingnya metode penentuan ambang batas secara rasional.

Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandes mengatakan kebijakan ambang batas parlemen tidak dapat dilepaskan dari tujuan politik yang hendak dicapai dalam sistem kepartaian Indonesia.

“Ambang batas parlemen itu akan memengaruhi berapa banyak partai di DPR, jumlah partai efektif, dan syarat minimal perolehan suara agar partai bisa lolos ke parlemen,” kata Arya dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) revisi UU Pemilu di Kompleks Parlemen Senayan, Selasa (20/1).

Ia menjelaskan, secara komparatif tidak ada satu angka ambang batas yang sama di setiap negara karena penentuannya sangat dipengaruhi oleh kondisi politik domestik, sistem kepartaian, serta tujuan pengaturan threshold itu sendiri.

“Di Eropa saja angkanya berbeda-beda. Prancis 5%, Italia dan Austria 4%, Polandia 5%. Tidak ada angka yang seragam,” ujarnya.

Arya menguraikan, dalam kajian kepemiluan dikenal dua jenis ambang batas, yakni ambang batas legal atau formal yang ditetapkan oleh pembuat undang-undang, serta ambang batas alamiah (natural threshold) yang muncul akibat efek mekanis sistem pemilu, seperti besaran daerah pemilihan dan metode konversi suara.

“Keduanya sama-sama legitimate secara politik dan hukum. Tidak berarti natural threshold lebih baik hanya karena dihitung secara matematis,” jelasnya.

Menurut Arya, putusan MK cenderung menekankan pendekatan matematis dalam penentuan ambang batas, padahal politik tidak sepenuhnya bersifat mekanis.

“Politik itu bukan mesin. Kalau satu tambah satu belum tentu selalu dua. Ambang batas harus dilihat dari tujuan yang ingin dicapai,” tegasnya.

Ia menilai terdapat potensi konflik argumentasi dalam pertimbangan MK, terutama ketika ambang batas diposisikan sebagai instrumen penyederhanaan partai politik. Menurutnya, penurunan ambang batas secara ekstrem justru berisiko menciptakan multipartai yang terlalu terfragmentasi.

“Kalau ambang batas diturunkan terlalu rendah, itu bisa menciptakan multipartai ekstrem dan menyulitkan pengambilan keputusan di DPR,” ujarnya.

Sebaliknya, ambang batas yang terlalu tinggi juga berisiko menurunkan derajat keterwakilan dan meningkatkan jumlah suara yang terbuang.

“Ambang batas tinggi memang bisa mengurangi fragmentasi, tapi konsekuensinya representasi turun dan suara yang tidak terkonversi menjadi kursi semakin besar,” kata Arya.

Atas dasar itu, ia mengusulkan pendekatan moderat melalui penurunan ambang batas secara bertahap. Menurutnya, langkah ini dapat menyeimbangkan antara stabilitas politik dan keterwakilan.

“Saya mengusulkan ambang batas diturunkan bertahap. Pemilu 2029 diturunkan dari 4% menjadi 3,5%, lalu Pemilu 2034 menjadi 3% dan seterusnya,” ujarnya.

Arya menilai angka 3,5% merupakan titik tengah yang relatif moderat, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah.

“Dengan ambang batas 3%, jumlah suara yang tidak terkonversi menjadi kursi bisa turun dari sekitar 17 juta menjadi 11 juta,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa dalam literatur kepemiluan tidak dikenal istilah ambang batas ideal. Penetapan threshold sepenuhnya bergantung pada tujuan kebijakan yang ingin dicapai.

“Tidak ada ambang batas ideal. Semua tergantung apakah kita ingin memperkuat stabilitas, meningkatkan keterwakilan, atau menekan fragmentasi,” pungkasnya. (H-2)

Read Entire Article