Mens Rea Pandji: Menggugat Tawa, Merindukan Gusdur

1 week ago 5
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Menghadapi Redaktur Junior yang logikanya sedang suspend ditelan kepanikan. (Dokpri/Fahruddin Fitriya).

"Mas Fit! Mas Fiiit! Kejadian tenan to..."

Oktrika setengah berlari mendekati meja saya. Napasnya memburu. Kayak habis dikejar deadline cetak halaman satu. Di tangannya, smartphone menyala menampilkan sebuah headline berita online.

"Pandji dilaporin polisi, Mas! Beneran dilaporin! Perwakilan pemuda NU sama Muhammadiyah turun gunung. Katanya ujaran kebencian. Memecah belah bangsa dan fitnah. Ada demo juga di Komdigi sama KPI!" serunya heboh.

Saya tidak kaget. Sama sekali tidak. Saya juga habis baca laporan itu semalam. Saya hanya meletakkan gelas kopi di atas meja. Tenang.

"Quod erat demonstrandum," gumam saya pelan.

"Apa itu, Mas? Mantra pengusir demo?" tanya Rika polos.

"Itu istilah matematika dan hukum, Rik. Artinya, apa yang harus dibuktikan, telah terbukti. Hipotesis saya di artikel kemarin valid. Marketing Pandji kini memasuki Fase Kedua, Free Publicity by Litigation," jawab saya sambil menyandarkan punggung.

Rika menarik kursi, duduk di depan saya. Wajahnya bingung. "Kok malah free publicity? Ini pidana lho, Mas. Penjara. Serius ini".

Saya tersenyum kecut. Saya menatap Rika, redaktur infotainment yang tiap hari berkutat dengan gosip artis cerai, tapi gagap melihat intrik politik yang kini mulai dibumbui drama hukum tingkat tinggi.

"Rik, kamu tahu siapa yang duduk di depanmu ini?" tanya saya retoris.

Rika mengangguk ragu. "Mas Fahruddin. Redaktur Pelaksana. Galak kalau deadline".

"Bukan itu. Secara kultural, saya ini nahdliyin. Saya lahir dan dibesarkan di lingkungan pesantren. Budaya NU-nya kental. Sekolah di yayasan Ma'arif. Darah saya hijau. Tahlilan dan yasinan itu makanan rohani saya. Tapi secara struktural? Lihat SK organisasi saya. Saya ini pengurus Pemuda Muhammadiyah. Resmi. Sah!" Saya menunjuk dada sendiri.

"Saya ini makhluk hibrida. Siang rapat di Muhammadiyah, malam tahlilan gaya NU. Jadi kalau ada dua ormas besar ini marah barengan, saya seharusnya jadi orang paling tersinggung sedunia. Harusnya saya yang pimpin demo di depan kantor KPI itu," kata saya berapi-api.

"Terus, Mas Fit marah?" tanya Rika.

"Marah? Tidak. Saya malah ngelus dada. Bukan karena ucapan Pandji, tapi karena betapa tipisnya kulit kita sekarang. Setipis tisu toilet kantor".

Saya menghela napas panjang. Mencoba mencari metafora yang pas untuk otak milenial Rika. "Rik, kamu tahu Gus Dur?"

"Tahu dong, Presiden ke-4. Bapak Pluralisme," jawabnya secepat kilat.

"Gus Dur itu The Godfather of Stand Up Comedy Indonesia. Jauh sebelum Pandji kenal mic, Gus Dur sudah me-roasting satu negara. Ingat lelucon legendarisnya? Dia bilang anggota DPR itu kayak anak TK. Taman Kanak-Kanak!".

Rika tertawa kecil. "Iya, itu legendaris".

"Bayangkan kalau joke itu diucapkan saat ini, Rik," suara saya merendah, dramatis. "Gus Dur pasti sudah dilaporkan dengan Pasal 433 KUHP Nasional juncto Pasal 27 UU ITE. Tuduhannya? Pencemaran nama baik institusi pendidikan anak usia dini! Asosiasi Guru TK se-Indonesia mungkin akan demo karena tidak terima muridnya disamakan dengan anggota DPR. Itu penghinaan bagi anak TK!".