"Mas Fit! Mas Fiiit! Kejadian tenan to..."
Oktrika setengah berlari mendekati meja saya. Napasnya memburu. Kayak habis dikejar deadline cetak halaman satu. Di tangannya, smartphone menyala menampilkan sebuah headline berita online.
"Pandji dilaporin polisi, Mas! Beneran dilaporin! Perwakilan pemuda NU sama Muhammadiyah turun gunung. Katanya ujaran kebencian. Memecah belah bangsa dan fitnah. Ada demo juga di Komdigi sama KPI!" serunya heboh.
Saya tidak kaget. Sama sekali tidak. Saya juga habis baca laporan itu semalam. Saya hanya meletakkan gelas kopi di atas meja. Tenang.
"Quod erat demonstrandum," gumam saya pelan.
"Apa itu, Mas? Mantra pengusir demo?" tanya Rika polos.
"Itu istilah matematika dan hukum, Rik. Artinya, apa yang harus dibuktikan, telah terbukti. Hipotesis saya di artikel kemarin valid. Marketing Pandji kini memasuki Fase Kedua, Free Publicity by Litigation," jawab saya sambil menyandarkan punggung.
Rika menarik kursi, duduk di depan saya. Wajahnya bingung. "Kok malah free publicity? Ini pidana lho, Mas. Penjara. Serius ini".
Saya tersenyum kecut. Saya menatap Rika, redaktur infotainment yang tiap hari berkutat dengan gosip artis cerai, tapi gagap melihat intrik politik yang kini mulai dibumbui drama hukum tingkat tinggi.
"Rik, kamu tahu siapa yang duduk di depanmu ini?" tanya saya retoris.
Rika mengangguk ragu. "Mas Fahruddin. Redaktur Pelaksana. Galak kalau deadline".
"Bukan itu. Secara kultural, saya ini nahdliyin. Saya lahir dan dibesarkan di lingkungan pesantren. Budaya NU-nya kental. Sekolah di yayasan Ma'arif. Darah saya hijau. Tahlilan dan yasinan itu makanan rohani saya. Tapi secara struktural? Lihat SK organisasi saya. Saya ini pengurus Pemuda Muhammadiyah. Resmi. Sah!" Saya menunjuk dada sendiri.
"Saya ini makhluk hibrida. Siang rapat di Muhammadiyah, malam tahlilan gaya NU. Jadi kalau ada dua ormas besar ini marah barengan, saya seharusnya jadi orang paling tersinggung sedunia. Harusnya saya yang pimpin demo di depan kantor KPI itu," kata saya berapi-api.
"Terus, Mas Fit marah?" tanya Rika.
"Marah? Tidak. Saya malah ngelus dada. Bukan karena ucapan Pandji, tapi karena betapa tipisnya kulit kita sekarang. Setipis tisu toilet kantor".
Saya menghela napas panjang. Mencoba mencari metafora yang pas untuk otak milenial Rika. "Rik, kamu tahu Gus Dur?"
"Tahu dong, Presiden ke-4. Bapak Pluralisme," jawabnya secepat kilat.
"Gus Dur itu The Godfather of Stand Up Comedy Indonesia. Jauh sebelum Pandji kenal mic, Gus Dur sudah me-roasting satu negara. Ingat lelucon legendarisnya? Dia bilang anggota DPR itu kayak anak TK. Taman Kanak-Kanak!".
Rika tertawa kecil. "Iya, itu legendaris".
"Bayangkan kalau joke itu diucapkan saat ini, Rik," suara saya merendah, dramatis. "Gus Dur pasti sudah dilaporkan dengan Pasal 433 KUHP Nasional juncto Pasal 27 UU ITE. Tuduhannya? Pencemaran nama baik institusi pendidikan anak usia dini! Asosiasi Guru TK se-Indonesia mungkin akan demo karena tidak terima muridnya disamakan dengan anggota DPR. Itu penghinaan bagi anak TK!".

1 week ago
5




















:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5380287/original/026074400_1760421304-iPhone_Air_01.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5432329/original/079320000_1764766872-Varian_TECNO_WATCH__Liputan6.comArief_Ferdian_Maulana_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1784724/original/023805100_1511922219-aws03.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5439875/original/004558000_1765404713-000_87QT9HP.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425048/original/028386900_1764209563-konate.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417262/original/092794200_1763526594-cloudflare-outage.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5435582/original/076987400_1765080408-Andreas_Diantoro_1.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5427148/original/020469000_1764328565-VP_Network_Strategic_Collaboration_and_Settlement_Telkomsel__Nizar_Fuadi.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3620641/original/042085600_1635848858-thibault-penin-AWOl7qqsffM-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4388071/original/050497100_1681018060-babak-habibi-34uOaL1He4w-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5423880/original/034821800_1764120445-IMG-20251126-WA0008.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5433135/original/058819000_1764836642-Be_My_Eyes_01.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5436024/original/001356600_1765153687-eFootball_FIFAe_World_Cup_2025_01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5424644/original/081142100_1764150133-Google_Meet.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5426249/original/006736300_1764298585-Poco_F8_Ultra_08.jpeg)